![]() |
Dok, foto; Desa Dukuh Bungkal Merawat Tradisi Tegal Desa Wujud Rasa Syukur dan salah satu peserta karnaval warga RT 11. Minggu (1/9/2024). |
SURABAYA, MSR Indonesia - Dalam rangka upaya mewujudkan rasa syukur atau terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, warga Desa Dukuh Bungkal, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, mengelar Sedekah Bumi (Tegal Desa) berpusat di Balai RW. Minggu (1/9/2024).
Tujuan dari Sedekah Bumi adalah menghormati kepada para leluhur, yang rutin diadakan setiap tahun dan mereka sangat antusias, terbukti dengan datangnya ratusan warga yang menyuguhkan tumpeng, buah-buahan dan berbagai makanan lainnya.
Warga pun turut memeriahkan dengan pawai karnaval yang diikuti oleh RT 01 sampai RT 11 , RW 03. Setiap perwakilan RT menampilkan seni budaya tersendiri dengan beragam pakaian adat yang berbeda-beda.
Diungkapkan oleh beberapa warga setempat dengan diselenggarakan Sedekah Bumi ini, berharap warga Dukuh Bungkal tidak lupa/tahu diri kepada leluhur kita dan berkarakter baik dan cinta tanah air," ungkapnya warga kepada awak media.
Acara tahunan inipun, tak luput dimanfaatkan para pedagang kaki lima yang sudah memadati jalan-jalan desa sambil menjajakan dagangannya. Suasana terasa semarak di desa tersebut.
Hadir dalam tengah masyarakat/warga kegiatan Sedekah Bumi, Forkopimda kecamatan Sambikerep dan seluruh jajaran perangkat desa.
Misan selaku Ketua RW 3 Desa Dukuh Bungkal mengutarakan, tradisi ini telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Ia menjelaskan, sedekah bumi ini merupakan cara untuk terus melestarikan dan menjaga warisan leluhur. Meski dunia telah bergerak menuju modernitas, namun tradisi adalah sebuah tanggungjawab yang harus dilestarikan," jelasnya Ketua RW Misan kepada wartawan media ini.
Tampak beberapa tumpeng, dibawa menuju Punden Desa untuk menyempurnakan tradisi sedekah bumi tersebut. Warga Dukuh Bungkal berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar kampung mereka aman, tentram, banyak rejeki, dan dijauhkan dari bencana.
Uniknya, Desa Dukuh Bungkal menggelar lomba Ongkol atau Gulat yang bisa diikuti oleh siapa saja. Kata Misan, Tradisi Ongkol telah ada sejak lama di desa ini dan masih terus dilestarikan.
Warga memadati depan, kanan, dan kiri panggung, untuk melihat kehebohan pertandingan gulat tradisional tersebut. Riuh rendah sorakan penonton, dan permainan musik tradisonal menambah keseruan sedekah bumi ini.
Malam harinya, warga desa akan menutup perayaan sedekah bumi dengan pertunjukan Ludruk. Sebuah perayaan merawat tradisi selama tiga hari untuk kebudayaan yang abadi. {Eka}
dibaca
Posting Komentar